Profile MPI di Banten

Lima belas tahun sejak berpisah dari Jawa Barat untuk membentuk provinsi sendiri, kesejahteraan Banten berangsur membaik. Indikasi perubahan tersebut ditunjukkan melalui Indeks Pembangunan Manusia yang terus meningkat dari 66,6 di tahun 2002 menjadi 71,9 di tahun 2013. Hanya saja di balik perbaikan tersebut, provinsi paling barat Pulau Jawa ini masih menyimpan persoalan kemiskinan yang belum teratasi.

Selama 2012-2014 status kemiskinan Banten yang diukur secara multidimensi relatif jalan di tempat. Tiga indikator kemiskinan multidimensi yang ditunjukkan melalui indeks kemiskinan, angka kemiskinan, dan tingkat keparahan kemiskinan, masih menempatkan Banten di bawah rata-rata nasional.

Pada tahun 2014, Indeks Kemiskinan Multidimensi Banten adalah 0,146. Di antara 33 provinsi di Indonesia, Banten berada di urutan ke 16 atau setingkat lebih baik dari Sulawesi Utara. Ditinjau dari indikator lainnya, selama dua tahun sejak 2012, angka kemiskinan Banten rata-rata sebesar 33,3 persen. Artinya satu dari tiga penduduk Banten menghadapi kelangkaan kebutuhan dasar yang diukur dari berbagai dimensi. Dimensi yang dimaksud utamanya terkait pendidikan, kesehatan dan akses memperoleh hidup yang lebih berkualitas.

Kelangkaan air bersih, minimnya listrik, dan buruknya sanitasi merupakan tiga persoalan terbesar yang terjadi hampir di semua wilayah Banten. Kabupaten Pandeglang dan Lebak adalah dua wilayah dengan kondisi kemiskinan terburuk di antara delapan wilayah yang ada di Banten.

Jumlah Penduduk Miskin 2014

4.209.253

33%

% RT Miskin Multidimensi

33,1%

% Intensitas Kemiskinan

43,9%

Indeks Kemiskinan Multidimensi

0,146