Profile MPI di Nusa Tenggara Timur

Potret buram Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tentang kemiskinan dan keterbelakangan masih menyeruak. Masih banyak masyarakat yang tinggal di provinsi kepulauan ini yang tergolong miskin multidimensi. Di antara provinsi-provinsi lain, angka kemiskinan multidimensi provinsi ini menduduki peringkat kedua tertinggi setelah Papua.

Pada tahun 2014, kondisi kemiskinan multidimensi salah satu provinsi di Kepulauan Sunda Kecil ini tergolong memprihatinkan. Jumlah penduduk miskin multidimensinya sebesar 3,36 juta jiwa dengan jumlah rumah tangga sebanyak 707 ribu rumah tangga. Separuh lebih penduduknya berada dibawah garis kemiskinan. Pada tahun 2014 kemiskinan multidimensinya sebesar 65,1 persen.

Indikator-indikator kemiskinan multidimensi provinsi yang kepadatan penduduk 102 jiwa per kilometer persegi menunjukkan tren yang sejalan selama periode 2012-2014. Jumlah rumah tangga miskin multidimensi, dan jumlah penduduk miskin multidimensi cenderung fluktuatif. Demikian pula halnya dengan angka kemiskinan multidimensi, keparahan kemiskinan multidimensi dan Indeks Kemiskinan Multidimensi cenderung dinamis. Kondisinya sempat turun di tahun 2013 dan kemudian meningkat pada tahun berikutnya.

Pada tahun 2012, tercatat sebanyak 3,36 juta penduduk miskin multidimensi. Jumlah penduduk miskin ini secara absolut berkurang 101 ribu atau menurun 3 persen pada tahun 2013. Namun tahun berikutnya kembali meningkat 3 persen sehingga jumlah penduduk miskin bertambah lagi 97 ribu orang pada 2014.
Demikian pula angka kemiskinan multidimensi. Pada periode 2012-2014, terjadi penurunan angka kemiskinan sebesar 65,1 persen pada tahun 2014 atau turun 2,3 persen dibanding pada tahun 2012. Pola yang sama juga terjadi pada keparahan dan Indeks Kemiskinan Multidimensi.

Dalam kurun waktu 2012-2013, nampak ada perbedaan kemiskinan multidimensi antara desa dan kota. Jumlah penduduk miskin di perdesaan pada tahun 2012 sebanyak 3 juta jiwa. Sangat jauh bila dibandingkan dengan penduduk miskin di kota yang hanya sebesar 356 ribu jiwa. Komposisi ini tidak berbeda jauh dua tahun kemudian. Betapa kemiskinan terpusat didaerah perdesaan. Namun yang menarik justru pertumbuhan penduduk miskin di perkotaan cenderung meningkat. Pada tahun 2012 sebanyak 356 ribu, kemudian di tahun 2013 bertambah 27 ribu jiwa dan di tahun 2014 lebih besar lagi menjadi 31 ribu jiwa.

Pola yang sama juga terjadi pada angka, keparahan dan Indeks Kemiskinan Multidimensi. Peningkatan kemiskinan di perkotaan ini diindikasi karena banyaknya arus urbanisasi dari desa menuju ke kota. Lahan desa yang semakin lama tergerus oleh pemodal terutama dari sektor ekstraksi mengakibatkan lapangan kerja di desa terbatas. Penduduk desa hijrah ke kota untuk mengadu nasib. Selain itu faktor perkawinan usia muda juga menjadi salah satu penyebab.

Jumlah Penduduk Miskin 2014

3.365.708

65%

% RT Miskin Multidimensi

65,1%

% Intensitas Kemiskinan

47,6%

Indeks Kemiskinan Multidimensi

0,310