Teknis Perhitungan MPI

1.     Memilih Unit Analisis.

Analisis yang dipilih bisa dalam berbagai macam unit seperti individu, rumah tangga, propinsi, kabupaten/kota, jenis kelamin, desa-kota dan lain sebagainya.

2.     Memilih Dimensi.

Pemilihan dimensi sangat penting dilakukan untuk melihat dimensi apa yang ingin dilihat. Standar OPHI menggunakan tiga dimensi yaitu dimensi kesehatan, pendidikan dan standar kualitas hidup. Sementara MPI Indonesia, memakai tiga dimensi sesuai standar OPHI, dengan beberapa perubahan indikator di masing-masing dimensi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan dimensi dan indikator yang ada, yaitu antara lain:

  • Perlu melakukan expert review dari berbagai stakeholder terkait, melalui persepsi dari variabel terkait ini maka kekuatan dimensi dan indikator menjadi semakin kuat.
  • Untuk memperkuat legitimasi indikator maka harus memenuhi tujuan yang ada seperti SDGs, deklarasi HAM, atau misalnya RPJMN Pemerintah.
  • Asumsi implisit dan eksplisit tentang apa yang orang hargai dan harusnya hargai. Hal ini bisa dibawa dari konvensi, teori psikologi atau bahkan filosofi.
  • Data yang dipakai harus memberikan karakteristik indikator yang diberikan seperti data Susenas dapat memberika indikator dari berbagai macam dimensi seperti kesehatan, pendidikan, jaminan sosial, standar kualitas hidup, konsumsi, pendapatan, pekerjaan dan lain-lain.
  • Bukti empiris yang dapat menunjukan preferensi dan perilaku manusia atau studi yang memperlihatkan nilai dari masalah mental manusia.

3.     Memilih Indikator.

Indikator akan dipilih dari setiap dimensi dengan prinsip “accuracy” (untuk membuat data lebih akurat bisa menggunakan berbagai macam indikator yang dibutuhkan sehingga mempunyai berbagai macam analisis untuk membuat pembuatan kebijakan menjadi lebih baik) dan “parsimony” (menggunakan sesedikit mungkin indikator untuk mempermudah analisis kebijakan dan transparansi). Untuk menetapkan indikator yang baik maka kaidah statistik harus perlu diperhatikan, yaitu bila bisa penetapan indikator adalah tidak berkorelasi tinggi antar indikator. Indikator yang kami pilih telah melalui beberapa tahapan konsinyering yang dilakukan antara lain dengan sejumlah expert yang mengerti mengenai masalah kemiskinan di Indonesia seperti Prof. Erani Yustika, Ph.D., Hasbullah Tharbany, Ph.D., Sumedi Andono, Ph.D. , serta Bu Sri Hartati dan Pak Rizal dari BPS.

4.     Membuat Bobot Dimensi dan Indikator.

Sesuai dengan metode Alkire-Foster, setiap dimensi dan indikator akan diberikan bobot tertentu. Metode pembobotan dipakai rata -rata setiap dimensi dan indikator. Untuk bobot dimensi dan indikator MPI Indonesia tersaji di bawah ini:

Tabel 10 Bobot Dimensi dan Indikator MPI

Dimensi

(Bobot)

Indikator

(Bobot)

Kesehatan (1/3)

Sanitasi (1/12)

Air Bersih (1/12)

Akses pada layanan kesehatan maternal (persalinan) (1/12)

Asupan Gizi Seimbang pada Balita (1/12)

Pendidikan(1/3)

Akses kepada layanan pendidikan dasar dan menengah (1/9)

Melek Huruf (1/9)

Akses kepada layanan pendidikan pra sekolah (1/9)

Standar Kualitas Hidup(1/3)

Sumber Penerangan (1/12)

Bahan Bakar/Energi untuk Memasak(1/12)

Kondisi Atap, Lantai dan Dinding Rumah (1/12)

Kepemilikan Aset(1/12)

 

5.     Membuat Garis Kemiskinan.

Perlu ditetapkan poverty cut-off untuk masing-masing dimensi. Langkah pertama adalah menciptakan cut-off untuk metodologi di mana seseorang dapat dikatakan deprive atau non-deprive dari setiap dimensi. Misalnya: seseorang dikatakan miskin berdasarkan indikator pendidikan bilamana orang tersebut putus sekolah atau tidak pernah sekolah meski berada pada rentang usia sekolah. Di luar itu, seseorang tidak dapat dikatakan miskin.

6.     Aplikasi Garis Kemiskinan.

Langkah ini mengganti pencapaian seseorang dengan status yang dialami dengan setiap cut-off  atau batas garis kemiskinan multidimensi yang ada. Sebagai contoh, batas garis kemiskinan MPI adalah 0.333. Bila seseorang mengalami indikator kemiskinan dengan nilai total lebih dari 0,333 maka ia tergolong miskin multidimensi, sementara bila di bawah 0.333 maka orang tersebut tidak dapat dikatakan miskin multidimensi. Jadi, apabila seseorang tidak sekolah (mengalami kemiskinan dari dimensi pendidikan) tetapi masih berada di bawah garis kemiskinan multidimensi, maka ia tidak dikategorikan sebagai orang yang miskin.

7.     Hitung Jumlah Deprivasi dari Tiap Orang.

Setelah mendapatkan batasan garis kemiskinan, maka selanjutnya adalah menghitung jumlah kemiskinan. Metode Alkire Foster membuat persyaratan bahwa orang yang melewati batas 0.333 dianggap terkena kemiskinan multidimensi, tetapi cutoff ini bisa disesuaikan tergantung kebutuhan masing-masig daerah.

8.     Menetapkan Cut-off Kedua.

Asumsi penetapan ini adalah menetapkan bobot yang sesuai, hal ini akan memberikan angka dari tiap dimensi di indikator ia mengalami kemiskinan. Seseorang yang dikatakan mengalami kemiskinan multidimensi jika ia terkena dalam bebeberapa dimensi yang bersangkutan, sesuai dengan nilai bobot masing-masing indikator.

9.     Mengaplikasikan cut-off untuk mencapai set data orang miskin dan orang non-miskin yang sudah tersensor.

Fokus yang dilakukan adalah memberikan profil dari orang miskin tersebut serta dimensi yang diberikan saat mereka deprived. Semua informasi yang menyatakan bahwa ia tidak miskin akan dibuat nol semua. Penghitungan ini dapat dilihat dengan metodologi di bawah ini yaitu :

Tabel 11 Contoh Hasil penghitungan MPI individu dalam Rumah Tangga Sampel

Dimensi dan Indikator

Individu dalam Rumah Tangga Sampel

Bobot

1

2

3

4

Ukuran dalam rumah tangga sampel

4

7

5

4

 

Dimensi Kesehatan:

Sanitasi

0

1

0

1

1/12 = 0.083

Air Bersih

0

1

0

0

1/12 = 0.083

Akses pada layanan kesehatan maternal (persalinan)

1

1

0

0

1/12 = 0.083

Asupan Gizi Seimbang pada Balita

1

1

1

1

1/12 = 0.083

Dimensi Pendidikan:

Akses kepada layanan pendidikan dasar dan menengah

0

0

1

1

1/9 = 0.111

Melek Huruf

0

1

1

1

1/9 = 0.111

Akses kepada layanan pendidikan pra sekolah

0

1

0

1

1/9 = 0.111

Dimensi Standar Kualitas Hidup:

Sumber Penerangan

0

0

0

0

1/12 = 0.083

Bahan Bakar/Energi untuk Memasak

0

1

0

1

1/12 = 0.083

Kondisi Atap, Lantai dan Dinding Rumah

0

1

0

1

1/12 = 0.083

Kepemilikan Aset

0

1

0

1

1/12 = 0.083

Skor

0.166

0.803

0.305

0.748

 

Apakah masuk kategori miskin MPI (c1≥1/3=0.333)

No

Ya

No

Ya

 

Sensor skor (c1)

0

0.803

0

0.748

 

MPI dihitung menggunakan bobot tertimbang dari dimensi dan indikator. Bobot dari dimensi ditimbang sama yaitu 1/3 masing-masing dimensi. Bobot masing-masing indikator dalam dimensi juga ditimbang dengan nilai yang sama. Hasilnya, akan didapatkan bobot indikator sebagai berikut: bobot indikator kesehatan yang terdiri dari dua indikator dinilai sebesar 1/6, bobot pendidikan yang terdiri dari dua indikator dinilai 1/6 dan bobot kualitas hidup yang terdiri dari enam indikator dinilai 1/18.

Setiap orang yang dinilai dalam MPI dilihat berdasarkan indikator yang dinilai. Penilaiannya terdiri dari rentang 0-1. Ketika seseorang memenuhi penilaian kemiskinan menurut indikator MPI maka dia dikenaikan poin 1. Penilaian akan terus dilakukan pada setiap indikator. Setelah mendapatkan penilaian terhadap sepuluh indikator, maka indeks kemiskinan akan dihitung berdasarkan rumus berikut:

C1 = W1I1 + C2I2 + .... WnIn 

Dimana Ii =1 jika seseorang kena dalam indikator i dan Ii = 0 jika bukan. Wi adalah bobot dari indikator i dengan

Semua indikator dan dimensi kemudian dijumlahkan, lalu dicari rata-rata nilai. Seseorang dikatakan miskin ketika total rata-rata penilaian kecil dari 1/3

Pada tabel di atas terlihat bahwa individu 2 dan 4 terkena kemiskinan multidimensi, sementara individu 1 dan 4 tidak terkena kemiskinan multidimensi. Hal ini ditunjukkan dengan nilai kemiskinan multidimensi. Bila nilai yang dicapai berada di bawah batas 0,333 maka individu bersangkutan tidak mengalami kemiskinan multidimensi sementara bila nilainay lebih dari 0,333 maka individu tersebut mengalami kemiskinan multidimensi

Skor setiap orang dalam rumah tangga, contoh Rumah Tangga 1 adalah: (2 x 0.083) = 0.166

Angka kemiskinan multidimensi (H) = (7+4) : (4+7+5+4) = 0.550

Intensitas kemiskinan multidimensi (A) = (0 x 4) + (0.803 x 7) + (0 x 5) + (0.748 x 4) : (7+4) = 0.783

MPI = H x A = 0.550 x 0.783 = 0.4037

10. Menghitung Kemiskinan Headcount

Kemiskinan Headcount akan memberikan gambaran siapa yang mengalami kemiskinan multidimensi. Setidaknya dalam hal ini, tiap individu akan diketahui kemiskinan apa saja yang mereka alami.

q adalah jumlah individu yang dikategorikan miskin secara multidimensional sedangkan n adalah total populasi.

11. Menghitung Kemiskinan Household

Sesuai dengan Metode Alkire Foster, kemiskinan individu harus diaplikasikan kepada household dengan memetakan setiap individu dalam suatu keluarga yang mengalami kemiskinan multidimensi.

12. Memecah Grup dan Breakdown dari Dimensi

Grup yang dibuat bisa berdasarkan dengan jenis kelamin, daerah desa ataupun kota dan lain-lain. Tingkat kemiskinan bisa meningkat jika seseorang mengalami kemiskinan dengan adanya tambahan dimensi yang ada, jadi individu ini sensitif dari multiplikasi kemiskinan. Kemiskinan ini akan menyesuaikan dengan group yang dikalkulasikan dan dapat pula menjadi perbandingan internasional antar negara yang berbeda pula.

Pemecahan Grup ini bertujuan untuk mempemudah pemerintah daerah untuk menentukan berapa (penduduk atau RT yang miskin), dimana (daerah yang miskin), kenapa (penyebab kemiskinan), dan bagaimana (penanggulangan kemiskinan).